Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search


A LOVE SO BEAUTIFUL

View previous topic View next topic Go down

A LOVE SO BEAUTIFUL

Post by Admin on Sun May 25, 2008 8:18 pm

A LOVE SO BEAUTIFUL

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita
muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dg tangannya yg lain
dia meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu
berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya.
Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya
di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta.
Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya
untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala
harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg
ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah,
rumah maupun di lingkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya.
Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti
jiwanya.
Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna
dan tak ada seorang pun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi padaku?" dia menangis. Hatinya protes,
diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia
mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia
berdo'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena
mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah
seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah
perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui
Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru
perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam kedalam
jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya
diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta.
Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu
dan kesabaran yg tidak sedikit.

Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia
berhenti dg terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile.
Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana
Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu
diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun
untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa
naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian.

Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian?
Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian?
Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian?
Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa.
Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar.
Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah,
di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dg sabar Burhan menuntun
Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg susah payah dan
tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan
berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas.
Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan
menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus
diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri,
tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya
pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya,
supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang.

Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya.
Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa
dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. "Saya buta, tak bisa
melihat!" teriak Yasmin. "Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana?
Kamu telah benar-benar meninggalkan saya."
Burhan hancur hatinya mendengar itu.
Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan.
Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri.
Burhan tak melepas begitu saja Yasmin.
Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus.
Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte.
Berjalan dg tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera
pendengarannya, di manapun dia berada.

Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dg tenang
Burhan pergi ke tempat dinas. Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa
selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya.
Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat
ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya
belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni.
Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada
tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi
Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan
belajar.

Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani
rutinitasnya belajar, dg mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari,
ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, "saya sungguh iri
padamu". Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. "Anda
bicara pada saya?"
"Ya", jawab sopir bus. "Saya benar-benar iri padamu". Yasmin
kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini,
seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya
sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain
merasa iri?

"Apa maksud anda?" Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. "Kamu
tahu," jawab sopir bus, "Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini,
seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan.
Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga
bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan
bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu
kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu
salut, dan
pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan
melindungimu".

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat
orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa
begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya
sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yg tak
perlu untuk dilihat;
kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

Admin
Admin

Posts : 19
Points : 0
Reputasi : 0
Join date : 2008-05-25

View user profile http://fishes.aforumfree.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum